Senin, 07 November 2016

Ibu, Aku Ingin Bercerita Tentang Hidup Menurutku dan Daun-Daun yang Mulai gugur itu..


Ibu, di sini dingin sekali. Membuatku seolah berada di pelosok dulu tempatku menghabiskan sebagian masa kecil. Ketika itu kita harus berjalan jauh, jauh sekali, agar sampa di desa tempatmu ditugaskan sebagai guru. Dan sepanjang jalan itu, ibu, kita bercerita banyak hal, singgah membeli permen. Jika aku kecapaian, ayah menggendongku. Ibu, anak lanangmu ini rindu pelukmu.
Ibu, daun-daun di sini mulai menguning, menjadi merah... dan luruh satu-satu..
Sebentar lagi, musim dingin tiba..
Ibu, dedaunan itu.. apa memang demikianlah hidup memperlakukan harap mimpi kita? Begitulah jalan cerita dari Tuhan?
Tumbuh menghijau, lalu tiba-tiba dipaksa alam layu, dan sebelum ia benar-benar sadar telah jatuh, angin dingin datang menghempasnya... terbang jauh dari pohon tempatnya dulu bertaut. Lalu sebelum sedih dan takutnya sembuh, sepatu-sepatu mereka yang tergesa melindasnya hingga urai.

Gadis itu ibu... ketika melihat dedaunan, seakan aku melihat kisah yang sedikit ia bagikan padaku. Ada juga seorang pengungsi dari negeri indah yang koyak oleh perang, ibu. Orang-orang terbuang yang tidur kedinginan di jejalan kota sibuk ini. Bahkan aku, mungkin engkau.
Tapi ibu... bukankah, ketika dedauann itu akhirnya urai, ia menyatu ke tanah lalu jadi saripati bagi pepohonan dan daun-daun muda yang akan tumbuh keika musim dingin usai? Ia berubah, tak lagi daun, tapi dirinya masih ada, menjadi ia daun hijau, menjadi ia pohon agung menjulang langit, menjadi ia bebunga yang berwarna warni, menjadi ia buah-buahan beragam rasa.

Bukankah demikian ibu?

Aku harap.

Takut-taktu dan malu-malu, aku berdoa pada Tuhan untuk gadis itu, untuk bapak pengungsi, padamu, ayah, adik-adiku, pada sesiapapun..
Esok akan lebih baik, daun yang gugur, esok akan lebih baik. Kau akan melebur ke tanah tapi akan muncul jadi bunga indah. Daun layu yang gugur, esok akan lebih baik. Bahkan, kini pun kau sudah tampak indah.

Rabu, 12 Oktober 2016

Kita dan London Underground



Aku suka membanyangkan hidup sebagai sebuah perjalanan. Kita berjalan di rel masing-masing. Rel itu hanya milik kita. Kita sendiri di setapak yang telah ditentukan. Mungkin seperti kereta-kereta bawah tanah yang membawaku pulang pergi di kota ini. Memang kadang rel-rel itu bertemu, sehingga dua kereta dapat saling melihat. Tapi sesungguhnya itu hanya perlintasan sejenak.  Setelah itu, semua akan kembali pada setapak sunyi miliknya.
Banyak sudah perlintasan yang kulalui. Banyak orang-orang yang kutemui. Mereka datang, lalu pergi.
Lalu aku bertemu denganmu di satu tikungan, di satu perlintasan. Tiba-tiba saja aku lupa hukum bakunya; bahwa ini hanya perlintasan dan kita akan terpisah. Tiba-tiba saja aku jadi amnesia pada prinsip-prinsip yang kutahu pasti sejak awal. Bahwa tiada temu abadi.  Tiba-tiba aku pura-pura tidak paham bahwa telah kau lalui setapakmu lama sejak kita bertemu, bahwa kau pun telah bertemu seseorang yang menanam kesan unik itu dihatimu.
Dasar, aku memang pelupa.

image source

Senin, 10 Oktober 2016

Everglow




Menjelang sore di sini, atau mungkin sudah magrib. Aku tidak begitu tahu, tiada adzan di sini. Aku akhirnya sampai di kota ini, kawan. Kalian yang telah membantu sejak hari pertama. Sejak aku bercerita tentang kegagalan-kegagalan, kalian memantu dengan kata-kata menyejukan.

Ternyata kebaikan-kebaikan kalian tidak berhenti di kata-kata. Waktu kalian korbankan untuk mengurusiku yang masih seperti bocah tua ini. Katrok pula. Mulai dari membuatkan list yang harus dilakukan, membantu mengeksekusinya. Memboncengku memburu pesawat dan kereta. Mengantar dan menjemput di bandara, stasiun. Hanya Allah yang bisa membalas semua itu.  

Aku tak akan menulis nama kalian di sini. Nama-nama itu sudah terpatri di dalam sana, setiap kali aku kedinginan di sini, kesusahan mengikuti pelajaran, akan kuingat kalian.... tak akan kukecewakan kalian. Aku akan berjuang kawan!

Setiap kali kulihat toko buku, penghuin classic, pamflet-pamflet diskusi. Kalian muncul di layar benak. Sebab hal-hal itulah yang menjadi simpul pengikat kita. Di forum-forumlah kita dipertemukan, lewat kecintaan pada bukulah kita diperjumpakan. Di forum-forum rapatlah kita bertemu, majelis demikian akan selalu melontarkanku melintas masa-ruang, dan seolah kembali duduk-duduk bersama kalian.  Membicarakan banyak hal

Kita masing-masing memiliki mimpi di titik sana. Di horizon di sana itu. Kalian tanpa pamrih mendorongku, membopongku mengejar impianku. Kalian pun akan sampai. Lewat doa-doalah kita kini bertemu. Aku tahu doaku dan doamu, akan bertemu di pintu langit ketika mereka sedang malu-malu mengetuk kemurahan al-Rahman. Doaku dan doamu akan berangkulan.. 
  

Terimakasih ya Allah, telah Engkau takdirkan aku bertemu orang-orang baik ini. Kebaikan mereka aku tahu adalah wujud kasihmu. Olehnya ia tak berpamprih, berada dalam satu kategori dengan cinta ayah bundaku.

Ini hanyalah 12 purnama. Sebentar saja. Setelahnya aku harap kembali dan menemukan kalian semua telah jauh lebih keren