Jumat, 27 Januari 2017

Senyum


Kau lihat di jalan-jalan, orang-orang berlalu lalang, wajah mereka keras membatu, senyum seolah lama tak terukir. Mereka melangkah terburu-buru, mengejar apapun itu. Sebuah titik di horizon yang sialnya seolah semakin dikejar semakin menjauh saja. Janganlah kau merasa tak senang pada mereka, karena wajah-wajah itu memang cenderung tak ramah.
Mungkin, senyum itu mereka simpan-simpan. Mungkin wajah itu memang ditahan agar senyum tak tertunjukan.
Mungkin mereka menunggu hingga apapun yang belum tercapai itu akhirnya teraih. Lalu senyumpun mengalir deras. Laiknya hujan yang lama dinanti di Kilimanjaro.
Kau lihat di jalan-jalan, orang-orang berlalu lalang, wajah mereka selalu tersenyum. Seolah bahagia terus hidupnya. Padamu ia tersenyum, pada perempuan tua di depanmu itu dia juga tersenyum. Bahkan pada langit-langit kereta bawah tanah ini pun dia tersenyum. Pada koridor panjang di terowongan stasiun Picadily line ia juga tersenyum. Janglah kau merasa tak sesenang mereka, Karena wajah-wajah itu seolah memancar bahagia saja.
Mungkin, senyum itu sengaja mereka umbar-umbar. Mungkin wajah itu memang dipaksakan tampak tetap senang tegar.  Mungkin senyum-senyum itu adalah perban, bagi luka-luka kecewa sebab hidup tak selalu memberi yang diinginkan. Luka sebab titik di horizon itu, dikejarnya tak sampai-sampai, sedang apa yang dimiliknya habis direnggut nasib.

Selasa, 03 Januari 2017

Muslim Kelas Menengadah dan Hiperrealitas Kajian Pranikah



Terkisahlah, di tengah-tengah teduh-gaduh kota Jogja, hiduplah dua bujang yang kebetulan tidak berpinsip "jomblo sampai halal" apalagi
#udahPutusinAja. Mereka berdua punya pacar yang setia. Bahkan udah pada tahap manggil papa-mamah. Karena pacar mereka memang layak disapa mamah; mamahboard, alias motherboard. Pacar mereka adalah leptop.

Suatu hari setelah mengamat-amati realitas objektif GOR UNY di acara kajian pra-nikah yang penuh sesak, dan menyadari hiperrealitas isi kajian pra nikah yang bikin dada sesak, berbincanglah keduanya.

"Kalo kajian pra-nikah kok penuh banget ya kayak gini.." Berujar pemuda pertama dengan nada datar-datar saja. Ini sudah perkara biasa, tak perlu kaget.

"Iya, trus kalo kajian keilmuan yang sering kita bikin sepi sunyi. Hidup segan, mati tak rela. Kira-kira kenapa ya bro?" Dijawab pemuda kedua dengan nada yang hampir sama datarnya, cuma menukik sedikit di bagian pertanyannya.

"Humm, karena semua orang mau nikah, tapi tidak semua orang mau diajak mikir yang abstrak-abstrak" Jawab pemuda pertama sembari mengusap-usap dahunya yang ditumbuhi janggut tipis.

"Tapi bukannya yang dibahas di kajian pra nikah juga abstrak, seperti konsep cinta, kasih sayang,.. "

"Mungkin bagi kita abstrak, tapi bagi mereka, sepertinya cukup konkrit." Kata pemuda pertama, matanya mengikuti sepasang abi-ummi muda yang keluar dari GOR UNY bergandengan tangan. Pemuda kedua mengikuti arah pandangan temannya. Keduanya cepat-cepat memalingkan tatap.

Mereka lalu menengadah ke langit. Itulah gestur yang selalu dilakukan oleh setiap orang yang masuk kelas menengadah urban.

inspired by true story

Selasa, 20 Desember 2016

Tapi, masih pantaskah aku?




Aku datang padamu, tidak tahu malu meminta jika sedang butuh. Tak hanya mengetuk pelan pintumu, kugedor-gedor, berteriak, meminta dalam marah dan putus asa.

Lalu aku pergi begitu saja setelah kau berikan yang kuminta…

Aku ingin kembali mesra denganmu, ah, apa aku pernah benar-benar mesra denganmu? Sepertinya tidak pernah..

Hatiku mati pelan-pelan, akalku beku lalu membatu. Pada nafsulah kini aku membudak.

Aku ingin meminta kau selamatkan, tapi aku malu..

Sudah sering aku mendatangimu, lalu lari lagi…

Aku hampir putus asa, dan mulai takut kau benar-benar meninggalkanku…

Aku semakin jauh darimu, semakin tenggelam dalam penghambaanku pada semua yang semu..


Senin, 07 November 2016

Ibu, Aku Ingin Bercerita Tentang Hidup Menurutku dan Daun-Daun yang Mulai gugur itu..


Ibu, di sini dingin sekali. Membuatku seolah berada di pelosok dulu tempatku menghabiskan sebagian masa kecil. Ketika itu kita harus berjalan jauh, jauh sekali, agar sampa di desa tempatmu ditugaskan sebagai guru. Dan sepanjang jalan itu, ibu, kita bercerita banyak hal, singgah membeli permen. Jika aku kecapaian, ayah menggendongku. Ibu, anak lanangmu ini rindu pelukmu.
Ibu, daun-daun di sini mulai menguning, menjadi merah... dan luruh satu-satu..
Sebentar lagi, musim dingin tiba..
Ibu, dedaunan itu.. apa memang demikianlah hidup memperlakukan harap mimpi kita? Begitulah jalan cerita dari Tuhan?
Tumbuh menghijau, lalu tiba-tiba dipaksa alam layu, dan sebelum ia benar-benar sadar telah jatuh, angin dingin datang menghempasnya... terbang jauh dari pohon tempatnya dulu bertaut. Lalu sebelum sedih dan takutnya sembuh, sepatu-sepatu mereka yang tergesa melindasnya hingga urai.

Gadis itu ibu... ketika melihat dedaunan, seakan aku melihat kisah yang sedikit ia bagikan padaku. Ada juga seorang pengungsi dari negeri indah yang koyak oleh perang, ibu. Orang-orang terbuang yang tidur kedinginan di jejalan kota sibuk ini. Bahkan aku, mungkin engkau.
Tapi ibu... bukankah, ketika dedauann itu akhirnya urai, ia menyatu ke tanah lalu jadi saripati bagi pepohonan dan daun-daun muda yang akan tumbuh keika musim dingin usai? Ia berubah, tak lagi daun, tapi dirinya masih ada, menjadi ia daun hijau, menjadi ia pohon agung menjulang langit, menjadi ia bebunga yang berwarna warni, menjadi ia buah-buahan beragam rasa.

Bukankah demikian ibu?

Aku harap.

Takut-taktu dan malu-malu, aku berdoa pada Tuhan untuk gadis itu, untuk bapak pengungsi, padamu, ayah, adik-adiku, pada sesiapapun..
Esok akan lebih baik, daun yang gugur, esok akan lebih baik. Kau akan melebur ke tanah tapi akan muncul jadi bunga indah. Daun layu yang gugur, esok akan lebih baik. Bahkan, kini pun kau sudah tampak indah.

Rabu, 12 Oktober 2016

Kita dan London Underground



Aku suka membanyangkan hidup sebagai sebuah perjalanan. Kita berjalan di rel masing-masing. Rel itu hanya milik kita. Kita sendiri di setapak yang telah ditentukan. Mungkin seperti kereta-kereta bawah tanah yang membawaku pulang pergi di kota ini. Memang kadang rel-rel itu bertemu, sehingga dua kereta dapat saling melihat. Tapi sesungguhnya itu hanya perlintasan sejenak.  Setelah itu, semua akan kembali pada setapak sunyi miliknya.
Banyak sudah perlintasan yang kulalui. Banyak orang-orang yang kutemui. Mereka datang, lalu pergi.
Lalu aku bertemu denganmu di satu tikungan, di satu perlintasan. Tiba-tiba saja aku lupa hukum bakunya; bahwa ini hanya perlintasan dan kita akan terpisah. Tiba-tiba saja aku jadi amnesia pada prinsip-prinsip yang kutahu pasti sejak awal. Bahwa tiada temu abadi.  Tiba-tiba aku pura-pura tidak paham bahwa telah kau lalui setapakmu lama sejak kita bertemu, bahwa kau pun telah bertemu seseorang yang menanam kesan unik itu dihatimu.
Dasar, aku memang pelupa.

image source

Senin, 10 Oktober 2016

Everglow




Menjelang sore di sini, atau mungkin sudah magrib. Aku tidak begitu tahu, tiada adzan di sini. Aku akhirnya sampai di kota ini, kawan. Kalian yang telah membantu sejak hari pertama. Sejak aku bercerita tentang kegagalan-kegagalan, kalian memantu dengan kata-kata menyejukan.

Ternyata kebaikan-kebaikan kalian tidak berhenti di kata-kata. Waktu kalian korbankan untuk mengurusiku yang masih seperti bocah tua ini. Katrok pula. Mulai dari membuatkan list yang harus dilakukan, membantu mengeksekusinya. Memboncengku memburu pesawat dan kereta. Mengantar dan menjemput di bandara, stasiun. Hanya Allah yang bisa membalas semua itu.  

Aku tak akan menulis nama kalian di sini. Nama-nama itu sudah terpatri di dalam sana, setiap kali aku kedinginan di sini, kesusahan mengikuti pelajaran, akan kuingat kalian.... tak akan kukecewakan kalian. Aku akan berjuang kawan!

Setiap kali kulihat toko buku, penghuin classic, pamflet-pamflet diskusi. Kalian muncul di layar benak. Sebab hal-hal itulah yang menjadi simpul pengikat kita. Di forum-forumlah kita dipertemukan, lewat kecintaan pada bukulah kita diperjumpakan. Di forum-forum rapatlah kita bertemu, majelis demikian akan selalu melontarkanku melintas masa-ruang, dan seolah kembali duduk-duduk bersama kalian.  Membicarakan banyak hal

Kita masing-masing memiliki mimpi di titik sana. Di horizon di sana itu. Kalian tanpa pamrih mendorongku, membopongku mengejar impianku. Kalian pun akan sampai. Lewat doa-doalah kita kini bertemu. Aku tahu doaku dan doamu, akan bertemu di pintu langit ketika mereka sedang malu-malu mengetuk kemurahan al-Rahman. Doaku dan doamu akan berangkulan.. 
  

Terimakasih ya Allah, telah Engkau takdirkan aku bertemu orang-orang baik ini. Kebaikan mereka aku tahu adalah wujud kasihmu. Olehnya ia tak berpamprih, berada dalam satu kategori dengan cinta ayah bundaku.

Ini hanyalah 12 purnama. Sebentar saja. Setelahnya aku harap kembali dan menemukan kalian semua telah jauh lebih keren